Kamis, 05 Mei 2016

SAGA MENGHITAM

Kilau itu pupus
Berganti kelam berarak perlahan
Sesak ... tenggang himpit uap segalagala
Jingga tak lagi bias di angkasa

Hitam ...
Kian menghitam ...
Apakah malam yang datang?
Atau tertutup sakit nan sayat?

Berulang coba usir ratap
Harap berganti gelak
Malah tangis menghimpit
Jujur cepat melipat suka, alihalih ratap bicara

Oh ... saga!
mengapa ...?
Bosankah hiasi cakrawala
Andai iya... pergilah sesaat, lalu jelang lagi pada senyum, pada seri sanding awan

Jangan tak pulang!
Aku resah andai kelam menghujam
Usir gulita biar enggan jamah ke dalaman
Saga, jangan menghitam!


ZQS Bandung, 050516
MUSIM

Terjelang gerimis hujan
Tertampih rinai menderas
Sejuk
Bahkan gigil di pangkuan malam

Tiba-tiba membahang
Masa bakar sua tataplihat antara kita
Semilir bergulir panas
Desau itu beri isyarat
Kita disekat

Musim bawa kembali ke tapak asal
Mau tak mau sesak kemarau akan mengawal
Titikterik menjuntaikan peluh

Sedikit cemburu
Tapi aku tak kenal rasa sebelum ini
Apa yang terjadi?
Terpasung sudahkan jiwa kini?

Entahlah ... aku tetap tak pahami
Mengapa cepat musim berganti?

Rintikrintik kesekian
Telah pun pulang semalam
Aku ... kembali ke musim
Sendirian


ZQS
Bandung, 050516
SAMA YANG TAK SAMA

Sama pada langkah
Sama pada jabat jemari
Sama pada sendasedih
Sama pada.lukabahak

Sama ...
Tapi yang tak sama
Kala utara ada, selatan ada, timur ada, dan barat pun ada, jelma
Kau di arah tak sama
Aku juga di sama yang tak sama
Timur kau
Barat aku
Utara kau
Selatan aku
Sama yang tak sama
Sisi mana samasama?
Bilik kita ruang tak sama
Sama ingin bersama
Tapi sama yang tak lagi bersama
Tujutuju ingin sama tapi yang tak sama
Kau-aku beda arah
Sama!
Ingin samasama
Yang tak bisa bersama

ZQS
Bandung, 050516
MAAF DARI RANTAU

Di tempat ini, bapak
Rumah-rumah tingginya selangit
Jendela serba kaca
Bukan cendana atau kayu seadanya
Susunan besi dan baja
meng-angkasa
Bukan alang ilalang rajut tumbang rumah beta
Tanahnya ditutup batubata
Sekeliling jarang rindang
Mendiang teduh sudah lumpuh berganti tiang menjulang
Sepanjang jalan tuan-tuan berkuda terang
Hingga 'tak tampak kunang-kunang bermain riang
Tidak ada jeda-beda malam dan siang

Di kota ini, bapak
Beta pernah datang-pulang
Sedu-sedan serupa perang
Sekali menang berkali arang
Melanglang hari melunta waktu
Pilahpilah sampah harap berkah
Pundipundi mimpi cari rezeki
Beta jadi rasa mengerti
Berat sangat hidup sendiri
Dari sini, bapak
Dari jauh ranah rantau beta pandang bulan
Ada wajah bapak pucat pasi kejauhan
Deras keringat bapak bercucuran
Lelah letih badan bapak berpeluhan
Beta jadi rasa fahami
Berat sangat bapak besarkan beta
Maafkan beta, bapak
Pernah buang-buang uang bapak semaunya
Pergi pagi pulang pagi hura-hura narkoba
Tabungan bapak pakai tebus beta di penjara
Biaya sekolah beta guna foya-foya di plaza
Bapak ...
Itu cuma sebagian kecil beta punya salah
Bapak ...
Maaf!

Iwan Setiawan
Tgr, 23022016
Tema: Di balik senyum perempuan.
Judul: Perempuan dengan Rasa Terkoyak
Karya: Zie Qarisa Sasmi

Melisa Anja Aidin itu namaku, kelahiran Sarajevo, 28 Mei 1990 Bosnia. Menurut cerita pamanku, aku dan keluargaku melarikan diri dari pergolakan negeri kami. Aku yang baru setahun dilahirkan, harus hijrah dengan menjadi orang- orang dari ras pengungsi. Tapi bukan itu yang mau aku ceritakan, masa lalu sudah tidak penting. Sekarang aku berada di Indonesia, tepatnya di kota Batam yang panas. Di usiaku yang sebentar lagi menginjak 26 tahun, aku hidup mapan dengan pekerjaan sebagai seorang audit keuangan sebuah perusahaan swasta. Aku kini yatim piatu, karena paman yang satu-satunya keluargaku baru saja meninggal. Raihan Al'faizal adalah pacarku, pemuda tampan, gagah keturunan Jawa. Kami sudah 4 tahun pacaran dan baik-baik saja, sampai di pertengahan tahun kemarin tepatnya sehari setelah ulang tahunku yang ke 25. Raihan berubah menjadi sosok yang tak kukenali lagi, ia memang staff di Devisi keuangan yang aku bawahi. Entah apa yang terjadi, Raihan mampu menghianati aku hanya karena materi.

"Mei, kamu ke sini sekarang juga!" kata Badrul sahabat Raihan suatu sore lewat phonecellnya.

"Ada apa, Drul? Ke mana?" tanyaku bingung.

"Aku di Mall Nagoya Hill, lantai atas dekat Cafe Coffee Town, cepat kau ke sini!"

Suara Badrul terputus di telepon. Aku yang kebingungan, segera meluncur degan mobil Honda Jazz putihku. Setelah 15 menit aku sudah sampai di Mall yang dimaksud. Dengan Eskalator aku menuju Cafe Coffee Town, kulihat Badrul duduk sendiri dan segera aku hampiri.

"Ada apa, Drul?" tanyaku penasaran sambil duduk di sebelahnya.

"Mei, kau lihat meja di pojok sana! Itu Raihankan?" tunjuknya.

Sekilas aku layangkan mata ke arah yang dimaksud, aku kaget melihat pacarku Raihan duduk mesra dengan seorang wanita.

"Siapa wanita itu?" tanyaku pada Badrul.

"Mana kutahu! Akhir-akhir ini Rai (panggilan akrab Raihan) selalu menjaga jarak denganku," ucap Badrul dengan wajah sedih.

"Aku ke sana dulu!" kataku sambil bangkit dari kursi.

"Jangan, Mei! Kita perhatikan dari sini saja!" cegahnya.

"Tapi aku ingin tahu siapa wanita itu, dan apa hubungan mereka?"

Belum sampai niatku, Raihan dan wanita itu beranjak pergi.

"Kita ikuti dulu saja, Mei!"

Tanpa banyak pikir lagi, aku dan Badrul bergegas. Setelah sampai di parkiran mobil, aku melihat kedua orang itu naik mobil dan berlalu. Segera kami mengikuti ke mana pun Raihan pergi, tentu saja tanpa sepengetahuan mereka kalau kami buntuti. Betapa tercengangnya aku, melihat mobil yang ditumpangi Raihan dan wanita bergaun merah itu menuju ke sebuah hotel mewah. Sang wanita bergelayut mesra di lengan Raihan, sedangkan aku merasa cemburu yang luar biasa.

"Drul, aku tidak salah lihatkan?" tanyaku tak percaya.

"Sabar, Mei! Jangan berburuk sangka dulu," Badrul coba menenangkanku.

"Tapi ...,"

"Kau tunggu di sini, biar aku cari info ke dalam!" kata Badrul sambil keluar menuju hotel.

Aku diam mematung dengan perasaan gelisah, tidak tahu harus bagaimana. Setelah 10 menit aku menunggu, Badrul kembali dengan wajah yang sulit aku terjemahkan.

"Bagaimana, Drul?"

"Entahlah, Mei! Sebaiknya kita pulang, biar besok Raihan saja yang menjawab semuanya."

Seribu pertanyaan di hati berkecamuk, sepanjang perjalanan aku dan Badrul diam. Setelah mengantar ia ke Mall untuk mengambil kendaraannya, kami pun berpisah dan aku pulang ke apartemen. Semalaman aku tak bisa tidur karena memikirkan kejadian tadi, sampai subuh aku berlayar diberbagai sosial media hanya menuliskan status galau.

======

Senja di tepi pantai Ocarina Batam Center begitu indah, tapi tak bisa kunikmati karena gelisah menunggu kedatangan Raihan. Kami memang berjanji untuk ketemu setelah pulang kantor, sudah setengah jam aku menunggu Raihan belum datang juga. Kuraih telepon genggam dan berniat menghubungi, namun urung karena ia telah berjalan menghampiriku.

"Apa kabar, Mei?"

( 'Mei? Oh ... Tuhan, dia tak memanggilku sayang lagi.')

"Alhamdulillah baik!"

"Mau minum apa?" tanya Raihan basa-basi.

"Aku sudah pesan capucino Latte, paling sebentar lagi datang!" kataku dingin.

Dan benar saja, pesananku datang. Lalu Raihan memesan secangkir kopi, dengan cemilan.

"Rai, aku menunggu penjelasanmu!" kataku sambil memandang matanya.

"Mei, maafkan aku! Sungguh aku tak berniat menyakitimu," ucapnya serius.

"Tak menyakiti gimana? Siapa dia?" tanyaku sedikit emosional.

"Kau harus tahu alasan aku melakukan itu, Mei! Jangan mengambil kesimpulan sendiri."

"Baik, coba kau jelaskan!"

"Begini, Mei! Kau sudah tahu aku adalah anak tertua di keluargaku. Keempat adikku masih sekolah dan butuh biaya besar, sedangkan kedua orang tuaku tak bekerja."

"Trus?"

"Ya ..., aku harus mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Bukan hanya untuk biaya sekolah adik-adikku, tapi ...,"

"Tapi apa?" desakku tak sabar.

"Ibuku lagi sakit keras, Mei! Dia butuh uang banyak untuk berobat," tukas Raihan dengan suara parau.

"Lalu, siapa wanita yang bersamamu semalam?" tanyaku tak sabar.

"Dia tante Heny, wanita yang selama ini memberi biaya hidup kami selama 2 bulan ini. Dengan catatan aku harus menikahinya."

"A ... apa?" aku terhenyak tak percaya.

"Maafkan, aku Mei!"

"Tunggu! Lalu kenapa kau tidak meminta bantuanku? Kenapa harus tante Heny? Lalu kau anggap apa hubungan kita selama ini?" desakku bertubi-tubi.

"Mei, aku terlanjur berjanji dengan tante Heny. Dan sebelumnya aku sudah banyak meminjam uang darinya, ditambah lagi tante Heny telah membelikan sebuah rumah mewah untuk keluargaku di Jawa."

"Segitu gampangnya kau mengganti cintaku dengan materi, Rai? Hubungan selama hampir 4 tahun kau akhiri begitu saja?" marahku padanya.

Ingin aku berteriak dan menangis, tapi tidak aku lakukan karena tak ingin terlihat lemah di matanya. Raihan terdiam, dia hanya menatapku tanpa merasa bersalah sedikit pun. Ingin rasanya aku siram wajahnya dengan minuman.

"Mei, aku terlanjur berutang budi."

"Ah ... sudahlah! Aku tak percaya denganmu, Rai! Kau laki-laki bajingan!" hardikku sambil bangkit berdiri dan pergi meninggalkannya.

Raihan tidak mencegahku, ia sama sekali tak mengejarku. Sungguh begitu hancur dan terkoyak perasaan ini, karena ternyata aku mencintai laki-laki matre. Laki-laki yang dengan segampang itu memutuskan hubungan, yang telah berjalan selama 4 tahun. Setelah seminggu dari pertemuanku dengan Raihan, aku ingin berhenti bekerja karena muak bertemu dengannya. Tapi aku urungkan niatku dan tidak ambil perduli, sampai Raihan kemudian menikah dan berhenti dari pekerjaannya. Sebab dia diberi sebuah perusahaan sendiri oleh janda kaya yang bernama Heny itu, dan aku hanya tersenyum getir saat Badrul menceritakan keberuntungan Raihan. Aku tak ingin dendam padanya, sebab Tuhan tahu apa yang terbaik bagi umat-Nya. Aku, Melisa Anja Aidin akan selalu tersenyum meski dengan rasa terkoyak, sampai bahagia menghampiriku.

Selesai.
Nagoya, 02-04-2016
Zie Qarisa Sasmi
Karya: Drupadi Sunyi

Akulah
             sang
                       wakil
                                 rakyat

akulah sang wakil rakyat
gus dur bilang
aku anak-anak tk
yang masuk parlemen
berkelahi berebut permen

akulah sang wakil rakyat
merengek minta kasur empuk
seharga milyaran
perduli amat dengan mereka
kaum papa yang tidur di kolong jembatan

akulah sang wakil rakyat
buta mata
saat bocah-bocah marjinal
ingus menguning
menetek di dada emak mereka yang gering
tertutup kain kutang seadanya
apek lusuh berkeringat

akulah sang wakil rakyat
baju prada
tas hermes
sepatu luar negeri
gundik-gundik bergincu tebal
menungguku
belahan dada terbuka
lingerie tipis menggoda
bersiap menikmati dosa
usai rapat paripurna

akulah sang wakil rakyat
memamerkan senyum tanpa malu
selfie dengan sang Bigot
penguasa kota judi sedunia

akulah sang wakil rakyat
kongkalingkong mengeruk emas cendrawasih
saat anak-anak papua masih memakai koteka

akulah sang wakil rakyat
bak tukang pukul
menjotos penyimpanan
cemburu membakar

inilah aku
sang wakil rakyat
yang terhormat
itulah prestasiku

rakyat menghujat?
perduli setan
karena aku memang setan

akulah sang wakil rakyat
teko
lungguh
ndlahom
turu

jember 14032016
Drupadi Sunyi
Karya: Rintanalinie_Girinata_Primaniqie

NAFAS MALAM

Senjaku tanpa mentari
Gerimis menyisakan senyap
ambang malam
hening
sepi
Hatiku melemah raga pun lelah melesat kepucuk harap
Merindui belai kasih-Mu
Mencumbu kembang-kembang kehidupan

Tak pernah terfikir untuk menentang takdir-Mu
Menguak tabir senja yang tertera di mayapada
Pijar cahaya-Mu hangat menyergap sukma
Tuangkan segenap rasa
Dan diam lebih indah dari mimpi

@Nie Altar Senja
06 Maret 2016
#Puisi_kilat_ZieQ

Titip Salam

Aku tidur dulu, ya? Karena aku terpuas lelah. Titip salam pada kekasihmu yang terbaring di sebelahmu. Katakan kita habis bercinta, dan mungkin esok kan mengulang kisah yang sama.

zie Qarisa Sasmi
Btm__300316


Salsa Jumlah Cinta

Akhirnya ...
Ku temukan jua
Pasangan rima jiwa
Bersalsa lewat maya pada
Moga menjelma jadi dansa nyata
Tarian salsa dalam jumlah cinta
Memeluk hangat, mendekap erat
Meniti bilah bambu rapat-rapat
Ikat sejuta kasih berharkat
Bukan sekedar asa bejat
Dan langkah salsa
dekap kalbu
Kuat-kuat

Real poem by #ZieQ
Faling in love