Tema: Di balik senyum perempuan.
Judul: Perempuan dengan Rasa Terkoyak
Karya: Zie Qarisa Sasmi
Melisa
Anja Aidin itu namaku, kelahiran Sarajevo, 28 Mei 1990 Bosnia. Menurut
cerita pamanku, aku dan keluargaku melarikan diri dari pergolakan negeri
kami. Aku yang baru setahun dilahirkan, harus hijrah dengan menjadi
orang- orang dari ras pengungsi. Tapi bukan itu yang mau aku ceritakan,
masa lalu sudah tidak penting. Sekarang aku berada di Indonesia,
tepatnya di kota Batam yang panas. Di usiaku yang sebentar lagi
menginjak 26 tahun, aku hidup mapan dengan pekerjaan sebagai seorang
audit keuangan sebuah perusahaan swasta. Aku kini yatim piatu, karena
paman yang satu-satunya keluargaku baru saja meninggal. Raihan Al'faizal
adalah pacarku, pemuda tampan, gagah keturunan Jawa. Kami sudah 4 tahun
pacaran dan baik-baik saja, sampai di pertengahan tahun kemarin
tepatnya sehari setelah ulang tahunku yang ke 25. Raihan berubah menjadi
sosok yang tak kukenali lagi, ia memang staff di Devisi keuangan yang
aku bawahi. Entah apa yang terjadi, Raihan mampu menghianati aku hanya
karena materi.
"Mei, kamu ke sini sekarang juga!" kata Badrul sahabat Raihan suatu sore lewat phonecellnya.
"Ada apa, Drul? Ke mana?" tanyaku bingung.
"Aku di Mall Nagoya Hill, lantai atas dekat Cafe Coffee Town, cepat kau ke sini!"
Suara
Badrul terputus di telepon. Aku yang kebingungan, segera meluncur degan
mobil Honda Jazz putihku. Setelah 15 menit aku sudah sampai di Mall
yang dimaksud. Dengan Eskalator aku menuju Cafe Coffee Town, kulihat
Badrul duduk sendiri dan segera aku hampiri.
"Ada apa, Drul?" tanyaku penasaran sambil duduk di sebelahnya.
"Mei, kau lihat meja di pojok sana! Itu Raihankan?" tunjuknya.
Sekilas aku layangkan mata ke arah yang dimaksud, aku kaget melihat pacarku Raihan duduk mesra dengan seorang wanita.
"Siapa wanita itu?" tanyaku pada Badrul.
"Mana kutahu! Akhir-akhir ini Rai (panggilan akrab Raihan) selalu menjaga jarak denganku," ucap Badrul dengan wajah sedih.
"Aku ke sana dulu!" kataku sambil bangkit dari kursi.
"Jangan, Mei! Kita perhatikan dari sini saja!" cegahnya.
"Tapi aku ingin tahu siapa wanita itu, dan apa hubungan mereka?"
Belum sampai niatku, Raihan dan wanita itu beranjak pergi.
"Kita ikuti dulu saja, Mei!"
Tanpa
banyak pikir lagi, aku dan Badrul bergegas. Setelah sampai di parkiran
mobil, aku melihat kedua orang itu naik mobil dan berlalu. Segera kami
mengikuti ke mana pun Raihan pergi, tentu saja tanpa sepengetahuan
mereka kalau kami buntuti. Betapa tercengangnya aku, melihat mobil yang
ditumpangi Raihan dan wanita bergaun merah itu menuju ke sebuah hotel
mewah. Sang wanita bergelayut mesra di lengan Raihan, sedangkan aku
merasa cemburu yang luar biasa.
"Drul, aku tidak salah lihatkan?" tanyaku tak percaya.
"Sabar, Mei! Jangan berburuk sangka dulu," Badrul coba menenangkanku.
"Tapi ...,"
"Kau tunggu di sini, biar aku cari info ke dalam!" kata Badrul sambil keluar menuju hotel.
Aku
diam mematung dengan perasaan gelisah, tidak tahu harus bagaimana.
Setelah 10 menit aku menunggu, Badrul kembali dengan wajah yang sulit
aku terjemahkan.
"Bagaimana, Drul?"
"Entahlah, Mei! Sebaiknya kita pulang, biar besok Raihan saja yang menjawab semuanya."
Seribu
pertanyaan di hati berkecamuk, sepanjang perjalanan aku dan Badrul
diam. Setelah mengantar ia ke Mall untuk mengambil kendaraannya, kami
pun berpisah dan aku pulang ke apartemen. Semalaman aku tak bisa tidur
karena memikirkan kejadian tadi, sampai subuh aku berlayar diberbagai
sosial media hanya menuliskan status galau.
======
Senja
di tepi pantai Ocarina Batam Center begitu indah, tapi tak bisa
kunikmati karena gelisah menunggu kedatangan Raihan. Kami memang
berjanji untuk ketemu setelah pulang kantor, sudah setengah jam aku
menunggu Raihan belum datang juga. Kuraih telepon genggam dan berniat
menghubungi, namun urung karena ia telah berjalan menghampiriku.
"Apa kabar, Mei?"
( 'Mei? Oh ... Tuhan, dia tak memanggilku sayang lagi.')
"Alhamdulillah baik!"
"Mau minum apa?" tanya Raihan basa-basi.
"Aku sudah pesan capucino Latte, paling sebentar lagi datang!" kataku dingin.
Dan benar saja, pesananku datang. Lalu Raihan memesan secangkir kopi, dengan cemilan.
"Rai, aku menunggu penjelasanmu!" kataku sambil memandang matanya.
"Mei, maafkan aku! Sungguh aku tak berniat menyakitimu," ucapnya serius.
"Tak menyakiti gimana? Siapa dia?" tanyaku sedikit emosional.
"Kau harus tahu alasan aku melakukan itu, Mei! Jangan mengambil kesimpulan sendiri."
"Baik, coba kau jelaskan!"
"Begini,
Mei! Kau sudah tahu aku adalah anak tertua di keluargaku. Keempat
adikku masih sekolah dan butuh biaya besar, sedangkan kedua orang tuaku
tak bekerja."
"Trus?"
"Ya ..., aku harus mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Bukan hanya untuk biaya sekolah adik-adikku, tapi ...,"
"Tapi apa?" desakku tak sabar.
"Ibuku lagi sakit keras, Mei! Dia butuh uang banyak untuk berobat," tukas Raihan dengan suara parau.
"Lalu, siapa wanita yang bersamamu semalam?" tanyaku tak sabar.
"Dia tante Heny, wanita yang selama ini memberi biaya hidup kami selama 2 bulan ini. Dengan catatan aku harus menikahinya."
"A ... apa?" aku terhenyak tak percaya.
"Maafkan, aku Mei!"
"Tunggu!
Lalu kenapa kau tidak meminta bantuanku? Kenapa harus tante Heny? Lalu
kau anggap apa hubungan kita selama ini?" desakku bertubi-tubi.
"Mei,
aku terlanjur berjanji dengan tante Heny. Dan sebelumnya aku sudah
banyak meminjam uang darinya, ditambah lagi tante Heny telah membelikan
sebuah rumah mewah untuk keluargaku di Jawa."
"Segitu
gampangnya kau mengganti cintaku dengan materi, Rai? Hubungan selama
hampir 4 tahun kau akhiri begitu saja?" marahku padanya.
Ingin
aku berteriak dan menangis, tapi tidak aku lakukan karena tak ingin
terlihat lemah di matanya. Raihan terdiam, dia hanya menatapku tanpa
merasa bersalah sedikit pun. Ingin rasanya aku siram wajahnya dengan
minuman.
"Mei, aku terlanjur berutang budi."
"Ah
... sudahlah! Aku tak percaya denganmu, Rai! Kau laki-laki bajingan!"
hardikku sambil bangkit berdiri dan pergi meninggalkannya.
Raihan
tidak mencegahku, ia sama sekali tak mengejarku. Sungguh begitu hancur
dan terkoyak perasaan ini, karena ternyata aku mencintai laki-laki
matre. Laki-laki yang dengan segampang itu memutuskan hubungan, yang
telah berjalan selama 4 tahun. Setelah seminggu dari pertemuanku dengan
Raihan, aku ingin berhenti bekerja karena muak bertemu dengannya. Tapi
aku urungkan niatku dan tidak ambil perduli, sampai Raihan kemudian
menikah dan berhenti dari pekerjaannya. Sebab dia diberi sebuah
perusahaan sendiri oleh janda kaya yang bernama Heny itu, dan aku hanya
tersenyum getir saat Badrul menceritakan keberuntungan Raihan. Aku tak
ingin dendam padanya, sebab Tuhan tahu apa yang terbaik bagi umat-Nya.
Aku, Melisa Anja Aidin akan selalu tersenyum meski dengan rasa terkoyak,
sampai bahagia menghampiriku.
Selesai.
Nagoya, 02-04-2016
Zie Qarisa Sasmi