Minggu, 24 Juli 2016
NYANYIAN HUTAN
Karya: Zie Qarisa Sasmi
Pada bisik dedaun
Pada soraksorai batang
Pada celoteh dahan dan bunga
Nyanyian indah hijaunya
Buat aku terpesona
Tetapi ...
Musik sumbang perkusi penebang
Irama ganas rampas ranggas
Jerit pepohon memelas kasih
Pembalak jalang papas rerimbun
Bergidik, suara tak lagi menarik
Nanyian hutan berubah tangis
Tumbang ... sadis!
Ah ... malang
Lagu tersenggak
Nada hijau jadi kuning; hitam
Nyanyian hutan, hilang ...
ZQS
Btm__240516
MENITI BUIH
Karya: Zie Qarisa Sasmi
Sudah aku benarkan apa pun yang salah, duhai ... jiwa! Kau tak selayaknya ada di biduk oleng, dengan hempasan badai kebencian. Cukup aku dan para anak buah kapal yang tenggelam, bersama deru keangkuhannya. Jika kau bersamaku, kita tampak seperti onggokan kayu. Terhempas ke mana saja tiada arah tuju, aku tidak mau kau terluka.
Bila kaki ini diberkahi sekian muhzijat dari-Nya, maka aku akan meniti buih-buih gelombang. Berjalan pada waktu yang membawaku ke daratan, Insya Allah ... pabila umurku panjang.
Wahai jiwa ... kita bukanlah sepasang camar, dengan sayap mengembang; mengepak mesra di angkasa biru. Kau dan aku tak lebih dari ikatan hati, dengan benang kusut juga rapuh. Terlalu mudah putus; terpisah oleh perbedaan arah angin.
Jiwa nan merupa kekasih, terimakasih atas sandaran sesaat. Begitu indah aku rasakan, lega atas beban terbagi beberapa masa saat kau usung sebagian di pundakmu. Ada rasa syukur teramat sangat, bersua atas kehendak-Nya walau kita bukanlah sepasang camar.
Jiwa ... pergilah pada bias pelangi, sisakan badai bersamaku agar kau mampu mengenang aku dalam berkas bianglala. Kaki ini masih mau menapak walau gemetar, aku tak yakin seberapa lama bertahan. Tapi aku puas pernah ada kau, dalam desau kekalutan akhir-akhir ini.
Pulanglah ...!
Senyum saja padaku, hingga gelombang akan memberi cinta. Aku kenang jika pun karam ke dasar lautan, tapi kau harus sampai terlebih dahulu pada tujuan. Pulanglah kekasihku ... duhai jiwa tersayang.
ZQS
Pontianak, 24 Juli 2016
Jumat, 22 Juli 2016
SKETSA LUKA CINTA
Karya: Zie Qarisa Sasmi
Rejaman kasih beronak dusta
Harum tercium di ranum bisa
Ditimang hati penuh laraRepih meremuk kuntum jiwaSelisih kasih tersapih perih
Kepingan hati dimangsa hasrat
Telah pun ulang-ulang renda
Paparkan rona liku luka berdarah
Puing-puing cinta bertaburan
Dalam serak meluka garang
Namun langkah tak hirau jengah
Di jera nan tajam, aku hentikan rerasa
Oh ... kekasih nan tiada berhati
Bias wajahmu cumbui mimpi
Isak; tawa acap menyapa
Lalu hilang sekedip mata
Aku diam di sketsa luka cinta
Takkan lagi semai asmara
Aku terluka; kecewa ....
ZQS
Ptk__130716
DAUN HITAM
Duhai ... ibu yang kupanggil pertiwi
Rahimmu terisi darah
Kini tercecer nodai persada
Dirampas paksa oleh putraputra angkara
Kini tercecer nodai persada
Dirampas paksa oleh putraputra angkara
Oh ... jelata yang menjilatjilat laksana api neraka
Sudah pun renta; sekarat masih juga maksiat kau puja
Lihat ...! Lihatlah ... wahai bangsat!
Sudah pun renta; sekarat masih juga maksiat kau puja
Lihat ...! Lihatlah ... wahai bangsat!
Daundaun hijau gugur satu demi satu
Terkoyak sucinya oleh iblis prostitusi
Diperkosa para bocahboca haus kasih
Yang terlahir dari kloning pornografi
Terkoyak sucinya oleh iblis prostitusi
Diperkosa para bocahboca haus kasih
Yang terlahir dari kloning pornografi
Di mana letak ketimuran negeri dulu?
Bukankah kita selalu takut pada tabu?
Tapi apa yang terjadi di era globalisasi
Daundaun hijau nan cantik tibatiba menghitam!
Hiii ... taaammmm ... ternoda!
Jasad lembar demi lembar ditemukan penjuru persada
Regang nyawa tak berampun tuk dibela
Oh ... Ibu yang kupanggil pertiwi
Tiada lagi rahimmu aman dari senggama meraja rela
Daundaun hijau usia
Pelang dalam warna hitam
Bukankah kita selalu takut pada tabu?
Tapi apa yang terjadi di era globalisasi
Daundaun hijau nan cantik tibatiba menghitam!
Hiii ... taaammmm ... ternoda!
Jasad lembar demi lembar ditemukan penjuru persada
Regang nyawa tak berampun tuk dibela
Oh ... Ibu yang kupanggil pertiwi
Tiada lagi rahimmu aman dari senggama meraja rela
Daundaun hijau usia
Pelang dalam warna hitam
ZQS
Batam, 170516
Batam, 170516
DISASTERS DREAMS
Karya: Zie Qarisa Sasmi
Rinjani yang gelisah dalam tidur menjerit-jerit.
"Tolooonggg! Tolooonggg! Jangan ...! Jangan ...! Jangan ...! Jangan ...! Jaaangaaannn ...! Haaahhhh!"
Kemudian terbangun dengan sekujur badan penuh keringat.
"Ah, mimpi!" ucapnya terengah-engah.
Perlahan kemudian dia bangun dan berjalan menuju dapur, Rinjani hendak mengambil minuman. Tetapi anehnya rumah yang biasanya ramai tiba-tiba sepi.
"Ke mana orang-orang, ya?".tanya Rinjani dalam hati.
"Ayah ...! Bunda ...!" panggilnya.
"Mas Dido ... aneh? Eans ...! Bi Jum ...! Pak Usin ...! Loh ... kok gak ada orang?"
Rinjani bingung, tidak biasanya seluruh anggota keluarga pergi bersamaan. Rinjani terus saja mengitari rumah dari depan teras, hingga ke gudang belakang. Dari kamar orang tuanya, hingga kamar para pengurus rumah bahkan sampai di kolam renang punya tetangga pun diintipnya. Tapi tak satu orang pun dia temui. Rinjani kembali ke dalam rumah dan,
"Non!"
"HaaaH ...! Pak Usin? ... aduh, Pak! Kaget aku. Ini orang-orang pada ke mana, Pak?" tanya Rinjani keki sama pengurus halaman sekaligus merangkap sopir.
"Tidak tau, Non!" jawabnya datar.
"Loh kok aneh, Pak ...!"
Yang diajak bicara oleh Rinjani tiba-tiba hilang dari hadapannya.
"Pak Usin ...! Pak Usin ...! Pak ... ini ke mana si? kok pergi gitu aja tanpa pamit!" gerutu Rinjani kesal.
Rinjani tak habis pikir, ada apa sebenarnya. Namun karena tak menemukan jawaban, dia pun berniat kembali ke kamarnya. Saat melintasi tangga yang menghubungkan ruang tengah dan lantai atas, Rinjani melihat sosok bayang yang menyerupai Bi Jum. Baru hendak dipnggil, kembali bayangan itu hilang. Rinjani meneruskan langkah ke depan pintu kamarnya, baru pun memegang engsel pintu. Mata Rinjani menangkap kelebatan tubuh yang masuk ke kamar Eans adiknya, yang letaknya bersebelahan kamarnya.
"Ada siapa ya?" gumamnya was-was.
Langkah kaki mengajaknya menyelidiki kamar sang adik, dengan perlahan-lahan dibuka pintu kamar Eans kemudian masuk ke dalam. Gelap dan sepi, hanya tumpukan buku-buku sekolah.yang rapi di meja belajar, dan beberapa poster pria gothic di dinding kamar. Sang adik masih kuliah di semester ke dua, jadi pasti senang dengan hal-hal yang macho. Tapi bukan itu masalahnya, tatapan Rinjani terhenti pada salah satu gambar pria dengan busana aneh. Matanya tajam berkumis tipis dan pipi tirus, seperti gaya Kapten Jack Sparrow dalam film populer “Pirates of the Caribbean”. Rinjani menatap terus pada kedua mata gambar itu, terus dan terus seolah ada yang aneh. Dan benar saja, kedua mata itu bergerak-gerak dan tiba-tiba melompat keluar dari wajah gambar itu.
"Aaaahhhhhh ...!" Rinjani menjetit.
Darah muncrat dari mata itu ke wajah dan tubuhnya, membuat Rinjani ketakutan dan bergegas keluar dari sana. Tapi di depan pintu kamar Eans, dia dihadang oleh tubuh dari gambar tersebut. Seperti mayat hidup mengerikan, dengan menghunus sebuah pedang mencari-cari keberadaan Rinjani. Kontan saja Rinjani menjerit-jerit.
"Se ... se ... setaaannn! Ah ... jangan ... jangan ... !"
Rinjani lari menuju tangga dan hendak ke bawah lagi, tetapi di bawah tangga banyak makhluk serupa. Dan yang lebih mengerikan wajah dan tubuh mereka seperti melepuh, keluar belatung merayap dari mata dan mulut. Belum lagi tangan dan kaki yang terkelupas dan berborok, seperti jombi-jombi di film horor. Rinjani kebingungan dan ketakutan, sebab entah dari mana asalnya seluruh rumah dipenuhi setan. Dalam kepanikannya, Rinjani bingung hendak berlari ke arah mana. Satu sisi ia dikejar-kejar oleh sosok tubuh tanpa mata, satu sisi jombi-jombi menunggunya di bawah tangga. Tanpa berpikir panjang Rinjani berniat melompat, ke jendela yang di samping tangga yang menembus ke teras lantai dua. Celakanya ia malah gak lolos, sebaliknya terguling di anak tangga terus ke bawah.
"Aaaakkkhhhh!" jeritnya.
Tubuh Rinjani tertungkup di bawah tangga, ia pingsan karena kepalanya terbentur lantai dasar. Tapi makhluk-makhluk itu hilang, lenyap seperti asap. Cukup lama Rinjani pingsan, kala sadar sekujur tubuhnya terasa remuk seakan tulang belulangnya rontok.
"Uuukkkhhh ...!" rintih Rinjani kesakitan.
Perlahan ia mencoba bangkit, dan berusaha meraih sofa terdekat. Dengan bersusah payah ia pun mampu menaiki sofa, kemudian Rinjani duduk sambil mengingat apa yang terjadi.
"Apa yang terjadi padaku? mengapa seluruh orang di rumah ini bagaikan raib? ke mana mereka?" Rinjani terus bertanya-tanya.
Cukup lama ia terdiam dan hanyut dengan pikiran sendiri, hingga ia merasakan perut melilit karena lapar. Rinjani mencoba berdiri dan berjalan, niatnya ingin ke dapur untuk mencari makanan. Namun langkahnya terhenti, ia teringat dengan telepon genggamnya di dalam kamar.
"Aku harus ke kamar, tapi aman gak ya?" gumamnya ragu. "Tapi dari tadi aku tidak melihat bayangan tubuh itu lagi," pikirnya kemudian.
Dengan memberanikan diri, Rinjani berniat untuk ke kamarnya. Belum sempat ia ke anak tangga, terdengar suara pintu rumah diketuk.
"Tok! Tok! Tok!"
"Siapa?" tanya Rinjani setengah berteriak.
"Tok! Tok! Tok!"
Karena tidak ada jawaban namun pintu terus diketuk, Rinjani memutuskan melihat ke siapa yang datang. Syukur-syukur salah satu keluarganya pikir Rinjani. Dugaan ia benar, setelah melihat sekilas dari kaca jendela samping pintu, tampak ayah, bunda dan Eans pulang. Dengan suka cita Rinjani buka pintu.
"Ayah! Bunda! Dari mana saja kok baru pulang?" tanya Rinjani sedikit cemberut.
Tetapi ke tiga anggota keluarganya gak menjawab, malah masuk rumah tanpa menghiraukan Rinjani. Bahkan seolah-olah tidak memandangnya, hal ini membuat Rinjani semakin bingung.
"Bun, kok diam aja? Ayah ...! Eans ...!"
Tetap saja tidak ada jawaban, tatapan ke tiganya kosong bagai orang yang hilang ingatan. Dengan bersungut-sungut, Rinjani mengikuti ke tiganya ke dalam rumah. Lebih membingungkan lagi, ayah, bunda dan Eans masuk dan duduk di sofa tanpa berucap sepatah kata pun.
"Dari mana aja, Dik?" tanya Rinjani sambil menyenggol bahu Eans.
Sang adik tidak ada reaksi, Rinjani berpindah pandang pada ke dua orang tuanya.
"Ini kenapa, ya? kok pada diam, ada yang salah?" Rinjani terus berbicara, tapi tetap tak ada jawaban.
Rinjani semakin heran, ingin sekali ia berteriak tapi niatnya urung. Ia takut sikapnya malah menimbulkan kemarahan, lalu ia berjalan menuju dapur. Sesampainya di dapur, Rinjani merasa bergidik dan heran.
"Bunda, bu ... bukannya Bunda tadi duduk di sofa?" tanyanya gagap.
Tiba-tiba sang bunda mengambil pisau di dekat meja dapur, sedetik kemudian mengejar Rinjani dengan suara menggeram.
"Heerrrmmmm!"
Sontak Rinjadi kaget dan ketakutan, ia berlari menghindar.
"Ayaahhhh ... tooolooonnnggg!"
Terbirit Rinjani mencari perlindungan, lagi-lagi ia mendapat kenyataan yang mengejutkan. Sang ayah dan Eans telah menunggu dengan pandangan mata merah, serta seringai bagai setan kelaparan.
Terbirit Rinjani mencari perlindungan, lagi-lagi ia mendapat kenyataan yang mengejutkan. Sang ayah dan Eans telah menunggu dengan pandangan mata merah, serta seringai bagai setan kelaparan.
"Heerrrrmmm" geram keduanya menakutkan.
"Aaakkkhhh ...! tolong ...! tolong ...!" jerit Rinjani terbirit-birit mengitari ruang tamu.
Lagi-lagi Rinjani menghadapi situasi yang menegangkan, ia dikejar-kejar seolah akan jadi santapan. Sungguh malang nasib Rinjani, karena panik lari ia menabrak sebuah bufet hingga terjengkang jatuh. Sedangkan ayah, bunda dan Eans sudah mengepungnya. Dengan ganas mereka menyerang Rinjani, membacok, memukul dan menjambak rambutnya.
"Jangan ...! Jangan ...! Tolong ...! Tolong ...! Tooolooonnnggg ...!"
Rinjani merasa dada dan nafasnya hampir putus, gelap dan hitam serta hening. Ia lemas perlahan, entah berapa lama Rinjani hilang. Sayup-sayup ada secercah cahaya putih nun jauh dari pandangan, samar-samar ia mendengar.
"Rin ... Rin ... Rinjani ...!"
Perlahan matanya terbuka, ditatapnya wajah-wajah orang yang mengelilingi tubuhnya. Semua menatapnya dengan cemas, ayah, bunda, Eans dan lain-lain. Lama Rinjani diam mematung, seolah mencoba yakinkan diri dengan keadaan yang ada.
"Nak, apa yang terjadi? mengapa kau seperti orang bingung?" tanya ayah.
"Rin! Kau tidur sampai dua hari gak bangun-bangun. Ayah dan bunda cemas, sampai-sampai membawa kamu ke rumah sakit. Syukurlah kau telah sadar, tapi mengapa kau memeluk buku itu erat-erat?" jelas bunda panjang lebar.
Rinjani melihat ke arah yang di maksud bunda, tampak sebuah buku tebal terdekap erat di tangannya. Perlahan ia melepaskan dan mencoba mengingat semua, terbaca jelas di sampul buku berjudul DISASTERS DREAMS (kutukan mimpi). Rinjani akhirnya mengerti, buku itulah pangkal masalah yang ia hadapi. Siren dan Rusdi sudah memperingatkan agar ia tak membacanya. Tetapi karena penasara , Rinjani mengabaikan peringatan dua temannya. Buku usang yang ia temukan di rak perpustakaan kampus, hampir membuatnya kehilangan nyawa. Sudah banyak issu beredar tentang buku itu, karena penasaran Rinjani nekat membacanya juga. Untung saja ia tidak mengalami depresi seperti korban lain, akhirnya buku itu ia bakar agar tak memakan korban.
Selesai.
ZQS
Batam, 200516
ZQS
Batam, 200516
Kamis, 05 Mei 2016
SAGA MENGHITAM
Kilau itu pupus
Berganti kelam berarak perlahan
Sesak ... tenggang himpit uap segalagala
Jingga tak lagi bias di angkasa
Kilau itu pupus
Berganti kelam berarak perlahan
Sesak ... tenggang himpit uap segalagala
Jingga tak lagi bias di angkasa
Hitam ...
Kian menghitam ...
Apakah malam yang datang?
Atau tertutup sakit nan sayat?
Berulang coba usir ratap
Harap berganti gelak
Malah tangis menghimpit
Jujur cepat melipat suka, alihalih ratap bicara
Oh ... saga!
mengapa ...?
Bosankah hiasi cakrawala
Andai iya... pergilah sesaat, lalu jelang lagi pada senyum, pada seri sanding awan
Jangan tak pulang!
Aku resah andai kelam menghujam
Usir gulita biar enggan jamah ke dalaman
Saga, jangan menghitam!
ZQS Bandung, 050516
Kian menghitam ...
Apakah malam yang datang?
Atau tertutup sakit nan sayat?
Berulang coba usir ratap
Harap berganti gelak
Malah tangis menghimpit
Jujur cepat melipat suka, alihalih ratap bicara
Oh ... saga!
mengapa ...?
Bosankah hiasi cakrawala
Andai iya... pergilah sesaat, lalu jelang lagi pada senyum, pada seri sanding awan
Jangan tak pulang!
Aku resah andai kelam menghujam
Usir gulita biar enggan jamah ke dalaman
Saga, jangan menghitam!
ZQS Bandung, 050516
MUSIM
Terjelang gerimis hujan
Tertampih rinai menderas
Sejuk
Bahkan gigil di pangkuan malam
Tiba-tiba membahang
Masa bakar sua tataplihat antara kita
Semilir bergulir panas
Desau itu beri isyarat
Kita disekat
Musim bawa kembali ke tapak asal
Mau tak mau sesak kemarau akan mengawal
Titikterik menjuntaikan peluh
Sedikit cemburu
Tapi aku tak kenal rasa sebelum ini
Apa yang terjadi?
Terpasung sudahkan jiwa kini?
Entahlah ... aku tetap tak pahami
Mengapa cepat musim berganti?
Rintikrintik kesekian
Telah pun pulang semalam
Aku ... kembali ke musim
Sendirian
ZQS
Bandung, 050516
Terjelang gerimis hujan
Tertampih rinai menderas
Sejuk
Bahkan gigil di pangkuan malam
Tiba-tiba membahang
Masa bakar sua tataplihat antara kita
Semilir bergulir panas
Desau itu beri isyarat
Kita disekat
Musim bawa kembali ke tapak asal
Mau tak mau sesak kemarau akan mengawal
Titikterik menjuntaikan peluh
Sedikit cemburu
Tapi aku tak kenal rasa sebelum ini
Apa yang terjadi?
Terpasung sudahkan jiwa kini?
Entahlah ... aku tetap tak pahami
Mengapa cepat musim berganti?
Rintikrintik kesekian
Telah pun pulang semalam
Aku ... kembali ke musim
Sendirian
ZQS
Bandung, 050516
SAMA YANG TAK SAMA
Sama pada langkah
Sama pada jabat jemari
Sama pada sendasedih
Sama pada.lukabahak
Sama ...
Tapi yang tak sama
Kala utara ada, selatan ada, timur ada, dan barat pun ada, jelma
Kau di arah tak sama
Aku juga di sama yang tak sama
Timur kau
Barat aku
Utara kau
Selatan aku
Sama yang tak sama
Sisi mana samasama?
Bilik kita ruang tak sama
Sama ingin bersama
Tapi sama yang tak lagi bersama
Tujutuju ingin sama tapi yang tak sama
Kau-aku beda arah
Sama!
Ingin samasama
Yang tak bisa bersama
ZQS
Bandung, 050516
Sama pada langkah
Sama pada jabat jemari
Sama pada sendasedih
Sama pada.lukabahak
Sama ...
Tapi yang tak sama
Kala utara ada, selatan ada, timur ada, dan barat pun ada, jelma
Kau di arah tak sama
Aku juga di sama yang tak sama
Timur kau
Barat aku
Utara kau
Selatan aku
Sama yang tak sama
Sisi mana samasama?
Bilik kita ruang tak sama
Sama ingin bersama
Tapi sama yang tak lagi bersama
Tujutuju ingin sama tapi yang tak sama
Kau-aku beda arah
Sama!
Ingin samasama
Yang tak bisa bersama
ZQS
Bandung, 050516
MAAF DARI RANTAU
Di tempat ini, bapak
Rumah-rumah tingginya selangit
Jendela serba kaca
Bukan cendana atau kayu seadanya
Susunan besi dan baja
meng-angkasa
Bukan alang ilalang rajut tumbang rumah beta
Tanahnya ditutup batubata
Sekeliling jarang rindang
Mendiang teduh sudah lumpuh berganti tiang menjulang
Sepanjang jalan tuan-tuan berkuda terang
Hingga 'tak tampak kunang-kunang bermain riang
Tidak ada jeda-beda malam dan siang
Di tempat ini, bapak
Rumah-rumah tingginya selangit
Jendela serba kaca
Bukan cendana atau kayu seadanya
Susunan besi dan baja
meng-angkasa
Bukan alang ilalang rajut tumbang rumah beta
Tanahnya ditutup batubata
Sekeliling jarang rindang
Mendiang teduh sudah lumpuh berganti tiang menjulang
Sepanjang jalan tuan-tuan berkuda terang
Hingga 'tak tampak kunang-kunang bermain riang
Tidak ada jeda-beda malam dan siang
Di kota ini, bapak
Beta pernah datang-pulang
Sedu-sedan serupa perang
Sekali menang berkali arang
Melanglang hari melunta waktu
Pilahpilah sampah harap berkah
Pundipundi mimpi cari rezeki
Beta jadi rasa mengerti
Berat sangat hidup sendiri
Dari sini, bapak
Dari jauh ranah rantau beta pandang bulan
Ada wajah bapak pucat pasi kejauhan
Deras keringat bapak bercucuran
Lelah letih badan bapak berpeluhan
Beta jadi rasa fahami
Berat sangat bapak besarkan beta
Maafkan beta, bapak
Pernah buang-buang uang bapak semaunya
Pergi pagi pulang pagi hura-hura narkoba
Tabungan bapak pakai tebus beta di penjara
Biaya sekolah beta guna foya-foya di plaza
Bapak ...
Itu cuma sebagian kecil beta punya salah
Bapak ...
Maaf!
Iwan Setiawan
Tgr, 23022016
Beta pernah datang-pulang
Sedu-sedan serupa perang
Sekali menang berkali arang
Melanglang hari melunta waktu
Pilahpilah sampah harap berkah
Pundipundi mimpi cari rezeki
Beta jadi rasa mengerti
Berat sangat hidup sendiri
Dari sini, bapak
Dari jauh ranah rantau beta pandang bulan
Ada wajah bapak pucat pasi kejauhan
Deras keringat bapak bercucuran
Lelah letih badan bapak berpeluhan
Beta jadi rasa fahami
Berat sangat bapak besarkan beta
Maafkan beta, bapak
Pernah buang-buang uang bapak semaunya
Pergi pagi pulang pagi hura-hura narkoba
Tabungan bapak pakai tebus beta di penjara
Biaya sekolah beta guna foya-foya di plaza
Bapak ...
Itu cuma sebagian kecil beta punya salah
Bapak ...
Maaf!
Iwan Setiawan
Tgr, 23022016
Tema: Di balik senyum perempuan.
Judul: Perempuan dengan Rasa Terkoyak
Karya: Zie Qarisa Sasmi
Melisa Anja Aidin itu namaku, kelahiran Sarajevo, 28 Mei 1990 Bosnia. Menurut cerita pamanku, aku dan keluargaku melarikan diri dari pergolakan negeri kami. Aku yang baru setahun dilahirkan, harus hijrah dengan menjadi orang- orang dari ras pengungsi. Tapi bukan itu yang mau aku ceritakan, masa lalu sudah tidak penting. Sekarang aku berada di Indonesia, tepatnya di kota Batam yang panas. Di usiaku yang sebentar lagi menginjak 26 tahun, aku hidup mapan dengan pekerjaan sebagai seorang audit keuangan sebuah perusahaan swasta. Aku kini yatim piatu, karena paman yang satu-satunya keluargaku baru saja meninggal. Raihan Al'faizal adalah pacarku, pemuda tampan, gagah keturunan Jawa. Kami sudah 4 tahun pacaran dan baik-baik saja, sampai di pertengahan tahun kemarin tepatnya sehari setelah ulang tahunku yang ke 25. Raihan berubah menjadi sosok yang tak kukenali lagi, ia memang staff di Devisi keuangan yang aku bawahi. Entah apa yang terjadi, Raihan mampu menghianati aku hanya karena materi.
"Mei, kamu ke sini sekarang juga!" kata Badrul sahabat Raihan suatu sore lewat phonecellnya.
"Ada apa, Drul? Ke mana?" tanyaku bingung.
"Aku di Mall Nagoya Hill, lantai atas dekat Cafe Coffee Town, cepat kau ke sini!"
Suara Badrul terputus di telepon. Aku yang kebingungan, segera meluncur degan mobil Honda Jazz putihku. Setelah 15 menit aku sudah sampai di Mall yang dimaksud. Dengan Eskalator aku menuju Cafe Coffee Town, kulihat Badrul duduk sendiri dan segera aku hampiri.
"Ada apa, Drul?" tanyaku penasaran sambil duduk di sebelahnya.
"Mei, kau lihat meja di pojok sana! Itu Raihankan?" tunjuknya.
Sekilas aku layangkan mata ke arah yang dimaksud, aku kaget melihat pacarku Raihan duduk mesra dengan seorang wanita.
"Siapa wanita itu?" tanyaku pada Badrul.
"Mana kutahu! Akhir-akhir ini Rai (panggilan akrab Raihan) selalu menjaga jarak denganku," ucap Badrul dengan wajah sedih.
"Aku ke sana dulu!" kataku sambil bangkit dari kursi.
"Jangan, Mei! Kita perhatikan dari sini saja!" cegahnya.
"Tapi aku ingin tahu siapa wanita itu, dan apa hubungan mereka?"
Belum sampai niatku, Raihan dan wanita itu beranjak pergi.
"Kita ikuti dulu saja, Mei!"
Tanpa banyak pikir lagi, aku dan Badrul bergegas. Setelah sampai di parkiran mobil, aku melihat kedua orang itu naik mobil dan berlalu. Segera kami mengikuti ke mana pun Raihan pergi, tentu saja tanpa sepengetahuan mereka kalau kami buntuti. Betapa tercengangnya aku, melihat mobil yang ditumpangi Raihan dan wanita bergaun merah itu menuju ke sebuah hotel mewah. Sang wanita bergelayut mesra di lengan Raihan, sedangkan aku merasa cemburu yang luar biasa.
"Drul, aku tidak salah lihatkan?" tanyaku tak percaya.
"Sabar, Mei! Jangan berburuk sangka dulu," Badrul coba menenangkanku.
"Tapi ...,"
"Kau tunggu di sini, biar aku cari info ke dalam!" kata Badrul sambil keluar menuju hotel.
Aku diam mematung dengan perasaan gelisah, tidak tahu harus bagaimana. Setelah 10 menit aku menunggu, Badrul kembali dengan wajah yang sulit aku terjemahkan.
"Bagaimana, Drul?"
"Entahlah, Mei! Sebaiknya kita pulang, biar besok Raihan saja yang menjawab semuanya."
Seribu pertanyaan di hati berkecamuk, sepanjang perjalanan aku dan Badrul diam. Setelah mengantar ia ke Mall untuk mengambil kendaraannya, kami pun berpisah dan aku pulang ke apartemen. Semalaman aku tak bisa tidur karena memikirkan kejadian tadi, sampai subuh aku berlayar diberbagai sosial media hanya menuliskan status galau.
======
Senja di tepi pantai Ocarina Batam Center begitu indah, tapi tak bisa kunikmati karena gelisah menunggu kedatangan Raihan. Kami memang berjanji untuk ketemu setelah pulang kantor, sudah setengah jam aku menunggu Raihan belum datang juga. Kuraih telepon genggam dan berniat menghubungi, namun urung karena ia telah berjalan menghampiriku.
"Apa kabar, Mei?"
( 'Mei? Oh ... Tuhan, dia tak memanggilku sayang lagi.')
"Alhamdulillah baik!"
"Mau minum apa?" tanya Raihan basa-basi.
"Aku sudah pesan capucino Latte, paling sebentar lagi datang!" kataku dingin.
Dan benar saja, pesananku datang. Lalu Raihan memesan secangkir kopi, dengan cemilan.
"Rai, aku menunggu penjelasanmu!" kataku sambil memandang matanya.
"Mei, maafkan aku! Sungguh aku tak berniat menyakitimu," ucapnya serius.
"Tak menyakiti gimana? Siapa dia?" tanyaku sedikit emosional.
"Kau harus tahu alasan aku melakukan itu, Mei! Jangan mengambil kesimpulan sendiri."
"Baik, coba kau jelaskan!"
"Begini, Mei! Kau sudah tahu aku adalah anak tertua di keluargaku. Keempat adikku masih sekolah dan butuh biaya besar, sedangkan kedua orang tuaku tak bekerja."
"Trus?"
"Ya ..., aku harus mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Bukan hanya untuk biaya sekolah adik-adikku, tapi ...,"
"Tapi apa?" desakku tak sabar.
"Ibuku lagi sakit keras, Mei! Dia butuh uang banyak untuk berobat," tukas Raihan dengan suara parau.
"Lalu, siapa wanita yang bersamamu semalam?" tanyaku tak sabar.
"Dia tante Heny, wanita yang selama ini memberi biaya hidup kami selama 2 bulan ini. Dengan catatan aku harus menikahinya."
"A ... apa?" aku terhenyak tak percaya.
"Maafkan, aku Mei!"
"Tunggu! Lalu kenapa kau tidak meminta bantuanku? Kenapa harus tante Heny? Lalu kau anggap apa hubungan kita selama ini?" desakku bertubi-tubi.
"Mei, aku terlanjur berjanji dengan tante Heny. Dan sebelumnya aku sudah banyak meminjam uang darinya, ditambah lagi tante Heny telah membelikan sebuah rumah mewah untuk keluargaku di Jawa."
"Segitu gampangnya kau mengganti cintaku dengan materi, Rai? Hubungan selama hampir 4 tahun kau akhiri begitu saja?" marahku padanya.
Ingin aku berteriak dan menangis, tapi tidak aku lakukan karena tak ingin terlihat lemah di matanya. Raihan terdiam, dia hanya menatapku tanpa merasa bersalah sedikit pun. Ingin rasanya aku siram wajahnya dengan minuman.
"Mei, aku terlanjur berutang budi."
"Ah ... sudahlah! Aku tak percaya denganmu, Rai! Kau laki-laki bajingan!" hardikku sambil bangkit berdiri dan pergi meninggalkannya.
Raihan tidak mencegahku, ia sama sekali tak mengejarku. Sungguh begitu hancur dan terkoyak perasaan ini, karena ternyata aku mencintai laki-laki matre. Laki-laki yang dengan segampang itu memutuskan hubungan, yang telah berjalan selama 4 tahun. Setelah seminggu dari pertemuanku dengan Raihan, aku ingin berhenti bekerja karena muak bertemu dengannya. Tapi aku urungkan niatku dan tidak ambil perduli, sampai Raihan kemudian menikah dan berhenti dari pekerjaannya. Sebab dia diberi sebuah perusahaan sendiri oleh janda kaya yang bernama Heny itu, dan aku hanya tersenyum getir saat Badrul menceritakan keberuntungan Raihan. Aku tak ingin dendam padanya, sebab Tuhan tahu apa yang terbaik bagi umat-Nya. Aku, Melisa Anja Aidin akan selalu tersenyum meski dengan rasa terkoyak, sampai bahagia menghampiriku.
Selesai.
Nagoya, 02-04-2016
Zie Qarisa Sasmi
Judul: Perempuan dengan Rasa Terkoyak
Karya: Zie Qarisa Sasmi
Melisa Anja Aidin itu namaku, kelahiran Sarajevo, 28 Mei 1990 Bosnia. Menurut cerita pamanku, aku dan keluargaku melarikan diri dari pergolakan negeri kami. Aku yang baru setahun dilahirkan, harus hijrah dengan menjadi orang- orang dari ras pengungsi. Tapi bukan itu yang mau aku ceritakan, masa lalu sudah tidak penting. Sekarang aku berada di Indonesia, tepatnya di kota Batam yang panas. Di usiaku yang sebentar lagi menginjak 26 tahun, aku hidup mapan dengan pekerjaan sebagai seorang audit keuangan sebuah perusahaan swasta. Aku kini yatim piatu, karena paman yang satu-satunya keluargaku baru saja meninggal. Raihan Al'faizal adalah pacarku, pemuda tampan, gagah keturunan Jawa. Kami sudah 4 tahun pacaran dan baik-baik saja, sampai di pertengahan tahun kemarin tepatnya sehari setelah ulang tahunku yang ke 25. Raihan berubah menjadi sosok yang tak kukenali lagi, ia memang staff di Devisi keuangan yang aku bawahi. Entah apa yang terjadi, Raihan mampu menghianati aku hanya karena materi.
"Mei, kamu ke sini sekarang juga!" kata Badrul sahabat Raihan suatu sore lewat phonecellnya.
"Ada apa, Drul? Ke mana?" tanyaku bingung.
"Aku di Mall Nagoya Hill, lantai atas dekat Cafe Coffee Town, cepat kau ke sini!"
Suara Badrul terputus di telepon. Aku yang kebingungan, segera meluncur degan mobil Honda Jazz putihku. Setelah 15 menit aku sudah sampai di Mall yang dimaksud. Dengan Eskalator aku menuju Cafe Coffee Town, kulihat Badrul duduk sendiri dan segera aku hampiri.
"Ada apa, Drul?" tanyaku penasaran sambil duduk di sebelahnya.
"Mei, kau lihat meja di pojok sana! Itu Raihankan?" tunjuknya.
Sekilas aku layangkan mata ke arah yang dimaksud, aku kaget melihat pacarku Raihan duduk mesra dengan seorang wanita.
"Siapa wanita itu?" tanyaku pada Badrul.
"Mana kutahu! Akhir-akhir ini Rai (panggilan akrab Raihan) selalu menjaga jarak denganku," ucap Badrul dengan wajah sedih.
"Aku ke sana dulu!" kataku sambil bangkit dari kursi.
"Jangan, Mei! Kita perhatikan dari sini saja!" cegahnya.
"Tapi aku ingin tahu siapa wanita itu, dan apa hubungan mereka?"
Belum sampai niatku, Raihan dan wanita itu beranjak pergi.
"Kita ikuti dulu saja, Mei!"
Tanpa banyak pikir lagi, aku dan Badrul bergegas. Setelah sampai di parkiran mobil, aku melihat kedua orang itu naik mobil dan berlalu. Segera kami mengikuti ke mana pun Raihan pergi, tentu saja tanpa sepengetahuan mereka kalau kami buntuti. Betapa tercengangnya aku, melihat mobil yang ditumpangi Raihan dan wanita bergaun merah itu menuju ke sebuah hotel mewah. Sang wanita bergelayut mesra di lengan Raihan, sedangkan aku merasa cemburu yang luar biasa.
"Drul, aku tidak salah lihatkan?" tanyaku tak percaya.
"Sabar, Mei! Jangan berburuk sangka dulu," Badrul coba menenangkanku.
"Tapi ...,"
"Kau tunggu di sini, biar aku cari info ke dalam!" kata Badrul sambil keluar menuju hotel.
Aku diam mematung dengan perasaan gelisah, tidak tahu harus bagaimana. Setelah 10 menit aku menunggu, Badrul kembali dengan wajah yang sulit aku terjemahkan.
"Bagaimana, Drul?"
"Entahlah, Mei! Sebaiknya kita pulang, biar besok Raihan saja yang menjawab semuanya."
Seribu pertanyaan di hati berkecamuk, sepanjang perjalanan aku dan Badrul diam. Setelah mengantar ia ke Mall untuk mengambil kendaraannya, kami pun berpisah dan aku pulang ke apartemen. Semalaman aku tak bisa tidur karena memikirkan kejadian tadi, sampai subuh aku berlayar diberbagai sosial media hanya menuliskan status galau.
======
Senja di tepi pantai Ocarina Batam Center begitu indah, tapi tak bisa kunikmati karena gelisah menunggu kedatangan Raihan. Kami memang berjanji untuk ketemu setelah pulang kantor, sudah setengah jam aku menunggu Raihan belum datang juga. Kuraih telepon genggam dan berniat menghubungi, namun urung karena ia telah berjalan menghampiriku.
"Apa kabar, Mei?"
( 'Mei? Oh ... Tuhan, dia tak memanggilku sayang lagi.')
"Alhamdulillah baik!"
"Mau minum apa?" tanya Raihan basa-basi.
"Aku sudah pesan capucino Latte, paling sebentar lagi datang!" kataku dingin.
Dan benar saja, pesananku datang. Lalu Raihan memesan secangkir kopi, dengan cemilan.
"Rai, aku menunggu penjelasanmu!" kataku sambil memandang matanya.
"Mei, maafkan aku! Sungguh aku tak berniat menyakitimu," ucapnya serius.
"Tak menyakiti gimana? Siapa dia?" tanyaku sedikit emosional.
"Kau harus tahu alasan aku melakukan itu, Mei! Jangan mengambil kesimpulan sendiri."
"Baik, coba kau jelaskan!"
"Begini, Mei! Kau sudah tahu aku adalah anak tertua di keluargaku. Keempat adikku masih sekolah dan butuh biaya besar, sedangkan kedua orang tuaku tak bekerja."
"Trus?"
"Ya ..., aku harus mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Bukan hanya untuk biaya sekolah adik-adikku, tapi ...,"
"Tapi apa?" desakku tak sabar.
"Ibuku lagi sakit keras, Mei! Dia butuh uang banyak untuk berobat," tukas Raihan dengan suara parau.
"Lalu, siapa wanita yang bersamamu semalam?" tanyaku tak sabar.
"Dia tante Heny, wanita yang selama ini memberi biaya hidup kami selama 2 bulan ini. Dengan catatan aku harus menikahinya."
"A ... apa?" aku terhenyak tak percaya.
"Maafkan, aku Mei!"
"Tunggu! Lalu kenapa kau tidak meminta bantuanku? Kenapa harus tante Heny? Lalu kau anggap apa hubungan kita selama ini?" desakku bertubi-tubi.
"Mei, aku terlanjur berjanji dengan tante Heny. Dan sebelumnya aku sudah banyak meminjam uang darinya, ditambah lagi tante Heny telah membelikan sebuah rumah mewah untuk keluargaku di Jawa."
"Segitu gampangnya kau mengganti cintaku dengan materi, Rai? Hubungan selama hampir 4 tahun kau akhiri begitu saja?" marahku padanya.
Ingin aku berteriak dan menangis, tapi tidak aku lakukan karena tak ingin terlihat lemah di matanya. Raihan terdiam, dia hanya menatapku tanpa merasa bersalah sedikit pun. Ingin rasanya aku siram wajahnya dengan minuman.
"Mei, aku terlanjur berutang budi."
"Ah ... sudahlah! Aku tak percaya denganmu, Rai! Kau laki-laki bajingan!" hardikku sambil bangkit berdiri dan pergi meninggalkannya.
Raihan tidak mencegahku, ia sama sekali tak mengejarku. Sungguh begitu hancur dan terkoyak perasaan ini, karena ternyata aku mencintai laki-laki matre. Laki-laki yang dengan segampang itu memutuskan hubungan, yang telah berjalan selama 4 tahun. Setelah seminggu dari pertemuanku dengan Raihan, aku ingin berhenti bekerja karena muak bertemu dengannya. Tapi aku urungkan niatku dan tidak ambil perduli, sampai Raihan kemudian menikah dan berhenti dari pekerjaannya. Sebab dia diberi sebuah perusahaan sendiri oleh janda kaya yang bernama Heny itu, dan aku hanya tersenyum getir saat Badrul menceritakan keberuntungan Raihan. Aku tak ingin dendam padanya, sebab Tuhan tahu apa yang terbaik bagi umat-Nya. Aku, Melisa Anja Aidin akan selalu tersenyum meski dengan rasa terkoyak, sampai bahagia menghampiriku.
Selesai.
Nagoya, 02-04-2016
Zie Qarisa Sasmi
Karya: Drupadi Sunyi
Akulah
sang
wakil
rakyat
akulah sang wakil rakyat
gus dur bilang
aku anak-anak tk
yang masuk parlemen
berkelahi berebut permen
akulah sang wakil rakyat
merengek minta kasur empuk
seharga milyaran
perduli amat dengan mereka
kaum papa yang tidur di kolong jembatan
akulah sang wakil rakyat
buta mata
saat bocah-bocah marjinal
ingus menguning
menetek di dada emak mereka yang gering
tertutup kain kutang seadanya
apek lusuh berkeringat
akulah sang wakil rakyat
baju prada
tas hermes
sepatu luar negeri
gundik-gundik bergincu tebal
menungguku
belahan dada terbuka
lingerie tipis menggoda
bersiap menikmati dosa
usai rapat paripurna
akulah sang wakil rakyat
memamerkan senyum tanpa malu
selfie dengan sang Bigot
penguasa kota judi sedunia
akulah sang wakil rakyat
kongkalingkong mengeruk emas cendrawasih
saat anak-anak papua masih memakai koteka
akulah sang wakil rakyat
bak tukang pukul
menjotos penyimpanan
cemburu membakar
inilah aku
sang wakil rakyat
yang terhormat
itulah prestasiku
rakyat menghujat?
perduli setan
karena aku memang setan
akulah sang wakil rakyat
teko
lungguh
ndlahom
turu
jember 14032016
Drupadi Sunyi
Akulah
sang
wakil
rakyat
akulah sang wakil rakyat
gus dur bilang
aku anak-anak tk
yang masuk parlemen
berkelahi berebut permen
akulah sang wakil rakyat
merengek minta kasur empuk
seharga milyaran
perduli amat dengan mereka
kaum papa yang tidur di kolong jembatan
akulah sang wakil rakyat
buta mata
saat bocah-bocah marjinal
ingus menguning
menetek di dada emak mereka yang gering
tertutup kain kutang seadanya
apek lusuh berkeringat
akulah sang wakil rakyat
baju prada
tas hermes
sepatu luar negeri
gundik-gundik bergincu tebal
menungguku
belahan dada terbuka
lingerie tipis menggoda
bersiap menikmati dosa
usai rapat paripurna
akulah sang wakil rakyat
memamerkan senyum tanpa malu
selfie dengan sang Bigot
penguasa kota judi sedunia
akulah sang wakil rakyat
kongkalingkong mengeruk emas cendrawasih
saat anak-anak papua masih memakai koteka
akulah sang wakil rakyat
bak tukang pukul
menjotos penyimpanan
cemburu membakar
inilah aku
sang wakil rakyat
yang terhormat
itulah prestasiku
rakyat menghujat?
perduli setan
karena aku memang setan
akulah sang wakil rakyat
teko
lungguh
ndlahom
turu
jember 14032016
Drupadi Sunyi
Karya: Rintanalinie_Girinata_Primaniqie
NAFAS MALAM
Senjaku tanpa mentari
Gerimis menyisakan senyap
ambang malam
hening
sepi
Hatiku melemah raga pun lelah melesat kepucuk harap
Merindui belai kasih-Mu
Mencumbu kembang-kembang kehidupan
Tak pernah terfikir untuk menentang takdir-Mu
Menguak tabir senja yang tertera di mayapada
Pijar cahaya-Mu hangat menyergap sukma
Tuangkan segenap rasa
Dan diam lebih indah dari mimpi
@Nie Altar Senja
06 Maret 2016
NAFAS MALAM
Senjaku tanpa mentari
Gerimis menyisakan senyap
ambang malam
hening
sepi
Hatiku melemah raga pun lelah melesat kepucuk harap
Merindui belai kasih-Mu
Mencumbu kembang-kembang kehidupan
Tak pernah terfikir untuk menentang takdir-Mu
Menguak tabir senja yang tertera di mayapada
Pijar cahaya-Mu hangat menyergap sukma
Tuangkan segenap rasa
Dan diam lebih indah dari mimpi
@Nie Altar Senja
06 Maret 2016
#Puisi_kilat_ZieQ
Titip Salam
Aku tidur dulu, ya? Karena aku terpuas lelah. Titip salam pada kekasihmu yang terbaring di sebelahmu. Katakan kita habis bercinta, dan mungkin esok kan mengulang kisah yang sama.
zie Qarisa Sasmi
Btm__300316
Salsa Jumlah Cinta
Akhirnya ...
Ku temukan jua
Pasangan rima jiwa
Bersalsa lewat maya pada
Moga menjelma jadi dansa nyata
Tarian salsa dalam jumlah cinta
Memeluk hangat, mendekap erat
Meniti bilah bambu rapat-rapat
Ikat sejuta kasih berharkat
Bukan sekedar asa bejat
Dan langkah salsa
dekap kalbu
Kuat-kuat
Real poem by #ZieQ
Faling in love
Titip Salam
Aku tidur dulu, ya? Karena aku terpuas lelah. Titip salam pada kekasihmu yang terbaring di sebelahmu. Katakan kita habis bercinta, dan mungkin esok kan mengulang kisah yang sama.
zie Qarisa Sasmi
Btm__300316
Salsa Jumlah Cinta
Akhirnya ...
Ku temukan jua
Pasangan rima jiwa
Bersalsa lewat maya pada
Moga menjelma jadi dansa nyata
Tarian salsa dalam jumlah cinta
Memeluk hangat, mendekap erat
Meniti bilah bambu rapat-rapat
Ikat sejuta kasih berharkat
Bukan sekedar asa bejat
Dan langkah salsa
dekap kalbu
Kuat-kuat
Real poem by #ZieQ
Faling in love
Selasa, 29 Maret 2016
Sang Pemungut Lusuh
Blog ini khusus dibuat sebagai sarana dan prasarana di bidang kepenulisan. Adapun tujuan saya dalam membuat blog ini adalah:
1. Sebagai wahana pembelajaran dan bacaan, sumber informasi pendidikan kepenulisan sastra.
2. Sebagai wadah dan tempat mengembangkan potesi anak negeri, dalam menulis dan menciptakan karya sastra.
3. Adalah wujud kecintaan saya, dalam pengembangan sastra Indonesia, baik berupa puisi bebas atau prosa.
4. Mewujudkan impian saya sebagai seorang penulis yang belajar secara otodidak.
5. Sebagai sarana bantuan promosi karya sastra bagi sekelompok orang yang rela dan mau berbagi karya sastra mereka di sini.
Demikianlah tujuan blog ZieQ ini dibuat, sesuai ketentuan yang berlaku.
Salam sastra dari ZieQ.
1. Sebagai wahana pembelajaran dan bacaan, sumber informasi pendidikan kepenulisan sastra.
2. Sebagai wadah dan tempat mengembangkan potesi anak negeri, dalam menulis dan menciptakan karya sastra.
3. Adalah wujud kecintaan saya, dalam pengembangan sastra Indonesia, baik berupa puisi bebas atau prosa.
4. Mewujudkan impian saya sebagai seorang penulis yang belajar secara otodidak.
5. Sebagai sarana bantuan promosi karya sastra bagi sekelompok orang yang rela dan mau berbagi karya sastra mereka di sini.
Demikianlah tujuan blog ZieQ ini dibuat, sesuai ketentuan yang berlaku.
Salam sastra dari ZieQ.
Langganan:
Postingan (Atom)


