Minggu, 24 Juli 2016

MENITI BUIH










Karya: Zie Qarisa Sasmi

Sudah aku benarkan apa pun yang salah, duhai ... jiwa! Kau tak selayaknya ada di biduk oleng, dengan hempasan badai kebencian. Cukup aku dan para anak buah kapal yang tenggelam, bersama deru keangkuhannya. Jika kau bersamaku, kita tampak seperti onggokan kayu. Terhempas ke mana saja tiada arah tuju, aku tidak mau kau terluka.

Bila kaki ini diberkahi sekian muhzijat dari-Nya, maka aku akan meniti buih-buih gelombang. Berjalan pada waktu yang membawaku ke daratan, Insya Allah ... pabila umurku panjang.

Wahai jiwa ... kita bukanlah sepasang camar, dengan sayap mengembang; mengepak mesra di angkasa biru. Kau dan aku tak lebih dari ikatan hati, dengan benang kusut juga rapuh. Terlalu mudah putus; terpisah oleh perbedaan arah angin.

Jiwa nan merupa kekasih,  terimakasih atas sandaran sesaat. Begitu indah aku rasakan, lega atas beban terbagi beberapa masa saat kau usung sebagian di pundakmu. Ada rasa syukur teramat sangat, bersua atas kehendak-Nya walau kita bukanlah sepasang camar.

Jiwa ... pergilah pada bias pelangi, sisakan badai bersamaku agar kau mampu mengenang aku dalam berkas bianglala. Kaki ini masih mau menapak walau gemetar, aku tak yakin seberapa lama bertahan. Tapi aku puas pernah ada kau, dalam desau kekalutan akhir-akhir ini.

Pulanglah ...!
Senyum saja padaku, hingga gelombang akan memberi cinta. Aku kenang jika pun karam ke dasar lautan, tapi kau harus sampai terlebih dahulu pada tujuan. Pulanglah kekasihku ... duhai jiwa tersayang.

ZQS
Pontianak, 24 Juli 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar