ZieQ
Minggu, 24 Juli 2016
NYANYIAN HUTAN
Karya: Zie Qarisa Sasmi
Pada bisik dedaun
Pada soraksorai batang
Pada celoteh dahan dan bunga
Nyanyian indah hijaunya
Buat aku terpesona
Tetapi ...
Musik sumbang perkusi penebang
Irama ganas rampas ranggas
Jerit pepohon memelas kasih
Pembalak jalang papas rerimbun
Bergidik, suara tak lagi menarik
Nanyian hutan berubah tangis
Tumbang ... sadis!
Ah ... malang
Lagu tersenggak
Nada hijau jadi kuning; hitam
Nyanyian hutan, hilang ...
ZQS
Btm__240516
MENITI BUIH
Karya: Zie Qarisa Sasmi
Sudah aku benarkan apa pun yang salah, duhai ... jiwa! Kau tak selayaknya ada di biduk oleng, dengan hempasan badai kebencian. Cukup aku dan para anak buah kapal yang tenggelam, bersama deru keangkuhannya. Jika kau bersamaku, kita tampak seperti onggokan kayu. Terhempas ke mana saja tiada arah tuju, aku tidak mau kau terluka.
Bila kaki ini diberkahi sekian muhzijat dari-Nya, maka aku akan meniti buih-buih gelombang. Berjalan pada waktu yang membawaku ke daratan, Insya Allah ... pabila umurku panjang.
Wahai jiwa ... kita bukanlah sepasang camar, dengan sayap mengembang; mengepak mesra di angkasa biru. Kau dan aku tak lebih dari ikatan hati, dengan benang kusut juga rapuh. Terlalu mudah putus; terpisah oleh perbedaan arah angin.
Jiwa nan merupa kekasih, terimakasih atas sandaran sesaat. Begitu indah aku rasakan, lega atas beban terbagi beberapa masa saat kau usung sebagian di pundakmu. Ada rasa syukur teramat sangat, bersua atas kehendak-Nya walau kita bukanlah sepasang camar.
Jiwa ... pergilah pada bias pelangi, sisakan badai bersamaku agar kau mampu mengenang aku dalam berkas bianglala. Kaki ini masih mau menapak walau gemetar, aku tak yakin seberapa lama bertahan. Tapi aku puas pernah ada kau, dalam desau kekalutan akhir-akhir ini.
Pulanglah ...!
Senyum saja padaku, hingga gelombang akan memberi cinta. Aku kenang jika pun karam ke dasar lautan, tapi kau harus sampai terlebih dahulu pada tujuan. Pulanglah kekasihku ... duhai jiwa tersayang.
ZQS
Pontianak, 24 Juli 2016
Jumat, 22 Juli 2016
SKETSA LUKA CINTA
Karya: Zie Qarisa Sasmi
Rejaman kasih beronak dusta
Harum tercium di ranum bisa
Ditimang hati penuh laraRepih meremuk kuntum jiwaSelisih kasih tersapih perih
Kepingan hati dimangsa hasrat
Telah pun ulang-ulang renda
Paparkan rona liku luka berdarah
Puing-puing cinta bertaburan
Dalam serak meluka garang
Namun langkah tak hirau jengah
Di jera nan tajam, aku hentikan rerasa
Oh ... kekasih nan tiada berhati
Bias wajahmu cumbui mimpi
Isak; tawa acap menyapa
Lalu hilang sekedip mata
Aku diam di sketsa luka cinta
Takkan lagi semai asmara
Aku terluka; kecewa ....
ZQS
Ptk__130716
DAUN HITAM
Duhai ... ibu yang kupanggil pertiwi
Rahimmu terisi darah
Kini tercecer nodai persada
Dirampas paksa oleh putraputra angkara
Kini tercecer nodai persada
Dirampas paksa oleh putraputra angkara
Oh ... jelata yang menjilatjilat laksana api neraka
Sudah pun renta; sekarat masih juga maksiat kau puja
Lihat ...! Lihatlah ... wahai bangsat!
Sudah pun renta; sekarat masih juga maksiat kau puja
Lihat ...! Lihatlah ... wahai bangsat!
Daundaun hijau gugur satu demi satu
Terkoyak sucinya oleh iblis prostitusi
Diperkosa para bocahboca haus kasih
Yang terlahir dari kloning pornografi
Terkoyak sucinya oleh iblis prostitusi
Diperkosa para bocahboca haus kasih
Yang terlahir dari kloning pornografi
Di mana letak ketimuran negeri dulu?
Bukankah kita selalu takut pada tabu?
Tapi apa yang terjadi di era globalisasi
Daundaun hijau nan cantik tibatiba menghitam!
Hiii ... taaammmm ... ternoda!
Jasad lembar demi lembar ditemukan penjuru persada
Regang nyawa tak berampun tuk dibela
Oh ... Ibu yang kupanggil pertiwi
Tiada lagi rahimmu aman dari senggama meraja rela
Daundaun hijau usia
Pelang dalam warna hitam
Bukankah kita selalu takut pada tabu?
Tapi apa yang terjadi di era globalisasi
Daundaun hijau nan cantik tibatiba menghitam!
Hiii ... taaammmm ... ternoda!
Jasad lembar demi lembar ditemukan penjuru persada
Regang nyawa tak berampun tuk dibela
Oh ... Ibu yang kupanggil pertiwi
Tiada lagi rahimmu aman dari senggama meraja rela
Daundaun hijau usia
Pelang dalam warna hitam
ZQS
Batam, 170516
Batam, 170516
DISASTERS DREAMS
Karya: Zie Qarisa Sasmi
Rinjani yang gelisah dalam tidur menjerit-jerit.
"Tolooonggg! Tolooonggg! Jangan ...! Jangan ...! Jangan ...! Jangan ...! Jaaangaaannn ...! Haaahhhh!"
Kemudian terbangun dengan sekujur badan penuh keringat.
"Ah, mimpi!" ucapnya terengah-engah.
Perlahan kemudian dia bangun dan berjalan menuju dapur, Rinjani hendak mengambil minuman. Tetapi anehnya rumah yang biasanya ramai tiba-tiba sepi.
"Ke mana orang-orang, ya?".tanya Rinjani dalam hati.
"Ayah ...! Bunda ...!" panggilnya.
"Mas Dido ... aneh? Eans ...! Bi Jum ...! Pak Usin ...! Loh ... kok gak ada orang?"
Rinjani bingung, tidak biasanya seluruh anggota keluarga pergi bersamaan. Rinjani terus saja mengitari rumah dari depan teras, hingga ke gudang belakang. Dari kamar orang tuanya, hingga kamar para pengurus rumah bahkan sampai di kolam renang punya tetangga pun diintipnya. Tapi tak satu orang pun dia temui. Rinjani kembali ke dalam rumah dan,
"Non!"
"HaaaH ...! Pak Usin? ... aduh, Pak! Kaget aku. Ini orang-orang pada ke mana, Pak?" tanya Rinjani keki sama pengurus halaman sekaligus merangkap sopir.
"Tidak tau, Non!" jawabnya datar.
"Loh kok aneh, Pak ...!"
Yang diajak bicara oleh Rinjani tiba-tiba hilang dari hadapannya.
"Pak Usin ...! Pak Usin ...! Pak ... ini ke mana si? kok pergi gitu aja tanpa pamit!" gerutu Rinjani kesal.
Rinjani tak habis pikir, ada apa sebenarnya. Namun karena tak menemukan jawaban, dia pun berniat kembali ke kamarnya. Saat melintasi tangga yang menghubungkan ruang tengah dan lantai atas, Rinjani melihat sosok bayang yang menyerupai Bi Jum. Baru hendak dipnggil, kembali bayangan itu hilang. Rinjani meneruskan langkah ke depan pintu kamarnya, baru pun memegang engsel pintu. Mata Rinjani menangkap kelebatan tubuh yang masuk ke kamar Eans adiknya, yang letaknya bersebelahan kamarnya.
"Ada siapa ya?" gumamnya was-was.
Langkah kaki mengajaknya menyelidiki kamar sang adik, dengan perlahan-lahan dibuka pintu kamar Eans kemudian masuk ke dalam. Gelap dan sepi, hanya tumpukan buku-buku sekolah.yang rapi di meja belajar, dan beberapa poster pria gothic di dinding kamar. Sang adik masih kuliah di semester ke dua, jadi pasti senang dengan hal-hal yang macho. Tapi bukan itu masalahnya, tatapan Rinjani terhenti pada salah satu gambar pria dengan busana aneh. Matanya tajam berkumis tipis dan pipi tirus, seperti gaya Kapten Jack Sparrow dalam film populer “Pirates of the Caribbean”. Rinjani menatap terus pada kedua mata gambar itu, terus dan terus seolah ada yang aneh. Dan benar saja, kedua mata itu bergerak-gerak dan tiba-tiba melompat keluar dari wajah gambar itu.
"Aaaahhhhhh ...!" Rinjani menjetit.
Darah muncrat dari mata itu ke wajah dan tubuhnya, membuat Rinjani ketakutan dan bergegas keluar dari sana. Tapi di depan pintu kamar Eans, dia dihadang oleh tubuh dari gambar tersebut. Seperti mayat hidup mengerikan, dengan menghunus sebuah pedang mencari-cari keberadaan Rinjani. Kontan saja Rinjani menjerit-jerit.
"Se ... se ... setaaannn! Ah ... jangan ... jangan ... !"
Rinjani lari menuju tangga dan hendak ke bawah lagi, tetapi di bawah tangga banyak makhluk serupa. Dan yang lebih mengerikan wajah dan tubuh mereka seperti melepuh, keluar belatung merayap dari mata dan mulut. Belum lagi tangan dan kaki yang terkelupas dan berborok, seperti jombi-jombi di film horor. Rinjani kebingungan dan ketakutan, sebab entah dari mana asalnya seluruh rumah dipenuhi setan. Dalam kepanikannya, Rinjani bingung hendak berlari ke arah mana. Satu sisi ia dikejar-kejar oleh sosok tubuh tanpa mata, satu sisi jombi-jombi menunggunya di bawah tangga. Tanpa berpikir panjang Rinjani berniat melompat, ke jendela yang di samping tangga yang menembus ke teras lantai dua. Celakanya ia malah gak lolos, sebaliknya terguling di anak tangga terus ke bawah.
"Aaaakkkhhhh!" jeritnya.
Tubuh Rinjani tertungkup di bawah tangga, ia pingsan karena kepalanya terbentur lantai dasar. Tapi makhluk-makhluk itu hilang, lenyap seperti asap. Cukup lama Rinjani pingsan, kala sadar sekujur tubuhnya terasa remuk seakan tulang belulangnya rontok.
"Uuukkkhhh ...!" rintih Rinjani kesakitan.
Perlahan ia mencoba bangkit, dan berusaha meraih sofa terdekat. Dengan bersusah payah ia pun mampu menaiki sofa, kemudian Rinjani duduk sambil mengingat apa yang terjadi.
"Apa yang terjadi padaku? mengapa seluruh orang di rumah ini bagaikan raib? ke mana mereka?" Rinjani terus bertanya-tanya.
Cukup lama ia terdiam dan hanyut dengan pikiran sendiri, hingga ia merasakan perut melilit karena lapar. Rinjani mencoba berdiri dan berjalan, niatnya ingin ke dapur untuk mencari makanan. Namun langkahnya terhenti, ia teringat dengan telepon genggamnya di dalam kamar.
"Aku harus ke kamar, tapi aman gak ya?" gumamnya ragu. "Tapi dari tadi aku tidak melihat bayangan tubuh itu lagi," pikirnya kemudian.
Dengan memberanikan diri, Rinjani berniat untuk ke kamarnya. Belum sempat ia ke anak tangga, terdengar suara pintu rumah diketuk.
"Tok! Tok! Tok!"
"Siapa?" tanya Rinjani setengah berteriak.
"Tok! Tok! Tok!"
Karena tidak ada jawaban namun pintu terus diketuk, Rinjani memutuskan melihat ke siapa yang datang. Syukur-syukur salah satu keluarganya pikir Rinjani. Dugaan ia benar, setelah melihat sekilas dari kaca jendela samping pintu, tampak ayah, bunda dan Eans pulang. Dengan suka cita Rinjani buka pintu.
"Ayah! Bunda! Dari mana saja kok baru pulang?" tanya Rinjani sedikit cemberut.
Tetapi ke tiga anggota keluarganya gak menjawab, malah masuk rumah tanpa menghiraukan Rinjani. Bahkan seolah-olah tidak memandangnya, hal ini membuat Rinjani semakin bingung.
"Bun, kok diam aja? Ayah ...! Eans ...!"
Tetap saja tidak ada jawaban, tatapan ke tiganya kosong bagai orang yang hilang ingatan. Dengan bersungut-sungut, Rinjani mengikuti ke tiganya ke dalam rumah. Lebih membingungkan lagi, ayah, bunda dan Eans masuk dan duduk di sofa tanpa berucap sepatah kata pun.
"Dari mana aja, Dik?" tanya Rinjani sambil menyenggol bahu Eans.
Sang adik tidak ada reaksi, Rinjani berpindah pandang pada ke dua orang tuanya.
"Ini kenapa, ya? kok pada diam, ada yang salah?" Rinjani terus berbicara, tapi tetap tak ada jawaban.
Rinjani semakin heran, ingin sekali ia berteriak tapi niatnya urung. Ia takut sikapnya malah menimbulkan kemarahan, lalu ia berjalan menuju dapur. Sesampainya di dapur, Rinjani merasa bergidik dan heran.
"Bunda, bu ... bukannya Bunda tadi duduk di sofa?" tanyanya gagap.
Tiba-tiba sang bunda mengambil pisau di dekat meja dapur, sedetik kemudian mengejar Rinjani dengan suara menggeram.
"Heerrrmmmm!"
Sontak Rinjadi kaget dan ketakutan, ia berlari menghindar.
"Ayaahhhh ... tooolooonnnggg!"
Terbirit Rinjani mencari perlindungan, lagi-lagi ia mendapat kenyataan yang mengejutkan. Sang ayah dan Eans telah menunggu dengan pandangan mata merah, serta seringai bagai setan kelaparan.
Terbirit Rinjani mencari perlindungan, lagi-lagi ia mendapat kenyataan yang mengejutkan. Sang ayah dan Eans telah menunggu dengan pandangan mata merah, serta seringai bagai setan kelaparan.
"Heerrrrmmm" geram keduanya menakutkan.
"Aaakkkhhh ...! tolong ...! tolong ...!" jerit Rinjani terbirit-birit mengitari ruang tamu.
Lagi-lagi Rinjani menghadapi situasi yang menegangkan, ia dikejar-kejar seolah akan jadi santapan. Sungguh malang nasib Rinjani, karena panik lari ia menabrak sebuah bufet hingga terjengkang jatuh. Sedangkan ayah, bunda dan Eans sudah mengepungnya. Dengan ganas mereka menyerang Rinjani, membacok, memukul dan menjambak rambutnya.
"Jangan ...! Jangan ...! Tolong ...! Tolong ...! Tooolooonnnggg ...!"
Rinjani merasa dada dan nafasnya hampir putus, gelap dan hitam serta hening. Ia lemas perlahan, entah berapa lama Rinjani hilang. Sayup-sayup ada secercah cahaya putih nun jauh dari pandangan, samar-samar ia mendengar.
"Rin ... Rin ... Rinjani ...!"
Perlahan matanya terbuka, ditatapnya wajah-wajah orang yang mengelilingi tubuhnya. Semua menatapnya dengan cemas, ayah, bunda, Eans dan lain-lain. Lama Rinjani diam mematung, seolah mencoba yakinkan diri dengan keadaan yang ada.
"Nak, apa yang terjadi? mengapa kau seperti orang bingung?" tanya ayah.
"Rin! Kau tidur sampai dua hari gak bangun-bangun. Ayah dan bunda cemas, sampai-sampai membawa kamu ke rumah sakit. Syukurlah kau telah sadar, tapi mengapa kau memeluk buku itu erat-erat?" jelas bunda panjang lebar.
Rinjani melihat ke arah yang di maksud bunda, tampak sebuah buku tebal terdekap erat di tangannya. Perlahan ia melepaskan dan mencoba mengingat semua, terbaca jelas di sampul buku berjudul DISASTERS DREAMS (kutukan mimpi). Rinjani akhirnya mengerti, buku itulah pangkal masalah yang ia hadapi. Siren dan Rusdi sudah memperingatkan agar ia tak membacanya. Tetapi karena penasara , Rinjani mengabaikan peringatan dua temannya. Buku usang yang ia temukan di rak perpustakaan kampus, hampir membuatnya kehilangan nyawa. Sudah banyak issu beredar tentang buku itu, karena penasaran Rinjani nekat membacanya juga. Untung saja ia tidak mengalami depresi seperti korban lain, akhirnya buku itu ia bakar agar tak memakan korban.
Selesai.
ZQS
Batam, 200516
ZQS
Batam, 200516
Kamis, 05 Mei 2016
SAGA MENGHITAM
Kilau itu pupus
Berganti kelam berarak perlahan
Sesak ... tenggang himpit uap segalagala
Jingga tak lagi bias di angkasa
Kilau itu pupus
Berganti kelam berarak perlahan
Sesak ... tenggang himpit uap segalagala
Jingga tak lagi bias di angkasa
Hitam ...
Kian menghitam ...
Apakah malam yang datang?
Atau tertutup sakit nan sayat?
Berulang coba usir ratap
Harap berganti gelak
Malah tangis menghimpit
Jujur cepat melipat suka, alihalih ratap bicara
Oh ... saga!
mengapa ...?
Bosankah hiasi cakrawala
Andai iya... pergilah sesaat, lalu jelang lagi pada senyum, pada seri sanding awan
Jangan tak pulang!
Aku resah andai kelam menghujam
Usir gulita biar enggan jamah ke dalaman
Saga, jangan menghitam!
ZQS Bandung, 050516
Kian menghitam ...
Apakah malam yang datang?
Atau tertutup sakit nan sayat?
Berulang coba usir ratap
Harap berganti gelak
Malah tangis menghimpit
Jujur cepat melipat suka, alihalih ratap bicara
Oh ... saga!
mengapa ...?
Bosankah hiasi cakrawala
Andai iya... pergilah sesaat, lalu jelang lagi pada senyum, pada seri sanding awan
Jangan tak pulang!
Aku resah andai kelam menghujam
Usir gulita biar enggan jamah ke dalaman
Saga, jangan menghitam!
ZQS Bandung, 050516
MUSIM
Terjelang gerimis hujan
Tertampih rinai menderas
Sejuk
Bahkan gigil di pangkuan malam
Tiba-tiba membahang
Masa bakar sua tataplihat antara kita
Semilir bergulir panas
Desau itu beri isyarat
Kita disekat
Musim bawa kembali ke tapak asal
Mau tak mau sesak kemarau akan mengawal
Titikterik menjuntaikan peluh
Sedikit cemburu
Tapi aku tak kenal rasa sebelum ini
Apa yang terjadi?
Terpasung sudahkan jiwa kini?
Entahlah ... aku tetap tak pahami
Mengapa cepat musim berganti?
Rintikrintik kesekian
Telah pun pulang semalam
Aku ... kembali ke musim
Sendirian
ZQS
Bandung, 050516
Terjelang gerimis hujan
Tertampih rinai menderas
Sejuk
Bahkan gigil di pangkuan malam
Tiba-tiba membahang
Masa bakar sua tataplihat antara kita
Semilir bergulir panas
Desau itu beri isyarat
Kita disekat
Musim bawa kembali ke tapak asal
Mau tak mau sesak kemarau akan mengawal
Titikterik menjuntaikan peluh
Sedikit cemburu
Tapi aku tak kenal rasa sebelum ini
Apa yang terjadi?
Terpasung sudahkan jiwa kini?
Entahlah ... aku tetap tak pahami
Mengapa cepat musim berganti?
Rintikrintik kesekian
Telah pun pulang semalam
Aku ... kembali ke musim
Sendirian
ZQS
Bandung, 050516
Langganan:
Postingan (Atom)


